BeritaPendidikanTangerang Selatan

Riset Pencemaran Pestisida Sungai Cisadane Antar Dua Siswa SMP Al-Azhar BSD Raih Emas OPSI

22
×

Riset Pencemaran Pestisida Sungai Cisadane Antar Dua Siswa SMP Al-Azhar BSD Raih Emas OPSI

Sebarkan artikel ini

Sibertangerang.id – Persoalan pencemaran lingkungan menjadi pintu masuk bagi dua siswa SMP Islam Al-Azhar BSD untuk mengembangkan penelitian hingga ke tingkat nasional.

Insyira Bilqis Ufaira, siswa kelas 8.3, dan Raquel Meddina Fajra Saleh, siswa kelas 9.4, berhasil meraih medali emas Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) 2026.

Keduanya mengangkat penelitian tentang model pemulihan masyarakat yang terdampak pencemaran pestisida di Sungai Cisadane.

Pengumuman penghargaan tersebut berlangsung pada puncak OPSI 2026 di Universitas Muhammadiyah Jakarta, 29 September 2026.

Acara itu juga disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube Pusat Prestasi Nasional (PUSPRESNAS).

Prestasi tersebut menjadi hasil dari rangkaian penelitian yang dilakukan selama beberapa bulan dengan pendampingan Nabilah Fikri Hardiani, S.Pd., selaku guru pembimbing.

Penelitian yang membawa Insyira dan Raquel meraih emas berjudul “Model Kompensasi Sosial Berbasis Social Ecological Model (SEM) untuk Pemulihan pada Masyarakat Terdampak Pencemaran Pestisida di Sungai Cisadane Pasca Kebakaran PT Biotek Saranatama Tahun 2026 di Tangerang Selatan”.

Penelitian itu berangkat dari perhatian keduanya terhadap kondisi masyarakat setelah terjadinya pencemaran pestisida di Sungai Cisadane.

Peristiwa tersebut bermula dari kebakaran gudang pestisida milik PT Biotek Saranatama. Dalam kejadian itu, sekitar 20 ton pestisida terbakar.

Air yang digunakan untuk proses pemadaman kemudian mengalir ke Kali Jeletreng dan bermuara ke Sungai Cisadane.

Kondisi tersebut membuat kedua siswa tidak hanya menyoroti dampak pencemaran terhadap lingkungan, tetapi juga konsekuensinya bagi masyarakat yang tinggal di wilayah terdampak.

Menurut Insyira dan Raquel, upaya pemulihan tidak semestinya hanya diarahkan pada kondisi sungai. Masyarakat yang merasakan dampak pencemaran juga perlu mendapat perhatian dalam proses pemulihan.

“Kami memilih judul ini karena adanya dampak multidimensional yang dirasakan oleh masyarakat setelah terjadinya pencemaran pestisida di Sungai Cisadane. Penanganan yang diberikan hanya berfokus pada kondisi sungainya, sedangkan penanganan juga seharusnya diberikan kepada masyarakat terdampak,” ujar Insyira dan Raquel.

Untuk menyusun model kompensasi sosial tersebut, keduanya menggunakan Social Ecological Model (SEM) sebagai kerangka penelitian.

Pendekatan ini digunakan untuk melihat kebutuhan masyarakat melalui sejumlah tingkatan, mulai dari individu, hubungan interpersonal, organisasi, komunitas, hingga kebijakan publik.

Dengan kerangka tersebut, penelitian tidak hanya memotret persoalan dari satu sudut pandang, tetapi mencoba menggambarkan kebutuhan pemulihan masyarakat secara lebih menyeluruh.

Penelitian dilakukan menggunakan pendekatan kualitatif. Data dikumpulkan melalui observasi nonpartisipan, wawancara semi-terstruktur, dan dokumentasi.

Keduanya menggali informasi dari masyarakat di sejumlah wilayah, yakni Sukarasa, Sukasari, Babakan, Cilenggang, dan Setu.

Mereka juga memperoleh informasi dari sejumlah pihak terkait, termasuk pemerintah daerah serta instansi yang menangani persoalan lingkungan dan layanan air.

Dalam prosesnya, Insyira dan Raquel mendapat pendampingan dari Nabilah Fikri Hardiani, S.Pd. Pendampingan dilakukan mulai dari pengembangan pertanyaan penelitian, pengolahan hasil temuan lapangan, analisis data, hingga penyusunan laporan untuk mengikuti kompetisi OPSI 2026.

Data yang terkumpul selanjutnya dianalisis menggunakan metode analisis tematik dengan kerangka Social Ecological Model.

Dari proses tersebut, mereka memetakan dampak pencemaran pada berbagai tingkatan, mulai dari individual, interpersonal, organizational, community, hingga public policy.

Hasil pemetaan tersebut kemudian menjadi dasar dalam penyusunan model kompensasi sosial yang menjadi fokus utama penelitian.

Perjalanan keduanya dalam OPSI 2026 sendiri telah dimulai sejak 7 Maret 2026. Pada tanggal tersebut, proposal penelitian diunggah sesuai dengan ketentuan kompetisi.

Setelah melewati berbagai tahapan, penelitian tersebut akhirnya membawa Insyira dan Raquel ke tingkat nasional.

Puncaknya terjadi ketika nama keduanya diumumkan sebagai peraih medali emas OPSI 2026 pada 29 September 2026 di Universitas Muhammadiyah Jakarta.

Kepala SMP Islam Al-Azhar BSD, Dede Riki, M.Ag., menyambut capaian tersebut dengan rasa syukur.

Namun, ia menilai keberhasilan siswa tidak semata-mata dapat diukur dari medali yang berhasil diraih.

Menurutnya, proses penelitian justru menjadi bagian penting dari pengalaman belajar yang diperoleh kedua siswa.

“Keberhasilan ini bukan hanya tentang mendapatkan kemenangan atau penghargaan, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana anak-anak kita sudah belajar menemukan masalah, melakukan penelitian, berpikir kritis, bekerja dalam tim, dan mempertanggungjawabkan gagasannya secara ilmiah,” ujar Dede.

Ia mengatakan proses penelitian memberikan kesempatan kepada siswa untuk tidak sekadar menerima pengetahuan.

Mereka juga didorong untuk menemukan persoalan, mengolah informasi, serta membangun gagasan berdasarkan kajian ilmiah.

Dede menilai pencapaian Insyira dan Raquel memperlihatkan bahwa persoalan nyata yang ada di lingkungan sekitar dapat menjadi sumber pembelajaran sekaligus bahan penelitian bagi siswa.

“Prestasi ini menunjukkan bahwa anak-anak SMP Islam Al-Azhar BSD memiliki potensi besar ketika diberikan ruang, pendampingan, dan kepercayaan untuk berkarya,” katanya.

Dede berharap keberhasilan di OPSI 2026 tidak berhenti pada raihan medali emas.

Pengalaman selama mengikuti kompetisi diharapkan menjadi modal bagi keduanya untuk terus mengembangkan kemampuan penelitian sekaligus meningkatkan kepedulian terhadap persoalan di lingkungan sekitar.

“Jangan berhenti pada kemenangan ini. Jadikan pengalaman OPSI sebagai bekal untuk terus bertanya, meneliti, berinovasi, dan memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat,” ujarnya.

Apresiasi juga diberikan kepada guru pembimbing, tim pendamping, orang tua, serta berbagai pihak yang ikut mendukung proses penelitian hingga mencapai kompetisi tingkat nasional.

Menurut Dede, capaian tersebut merupakan hasil kerja bersama yang tidak terlepas dari ketekunan dan kerja keras kedua siswa selama menjalani proses penelitian.

“Semoga prestasi ini menjadi bagian dari ikhtiar kita membangun generasi yang unggul secara akademik, kuat karakternya, dan tetap berlandaskan nilai-nilai Islam,” kata Dede.

Raihan medali emas OPSI 2026 menjadi penanda keberhasilan Insyira dan Raquel dalam membawa persoalan pencemaran lingkungan ke ruang penelitian.

Dari persoalan yang terjadi di Sungai Cisadane, keduanya mencoba menggali data, mendengarkan pengalaman masyarakat, serta menyusun gagasan pemulihan menggunakan pendekatan ilmiah.

Penelitian tersebut sekaligus menunjukkan bahwa isu lingkungan di sekitar siswa dapat berkembang menjadi kajian yang lebih luas ketika didukung rasa ingin tahu, pendampingan guru, dan proses penelitian yang terarah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *