BeritaKesehatan

Sakit Perut Jangan Dianggap Sepele, Ini Bahaya Usus Buntu yang Bisa Mengancam Nyawa

17
×

Sakit Perut Jangan Dianggap Sepele, Ini Bahaya Usus Buntu yang Bisa Mengancam Nyawa

Sebarkan artikel ini

Kenali penyebab, gejala, hingga penanganan medis apendisitis agar terhindar dari komplikasi serius.

Ilustrasi bahaya usus buntu
Ilustrasi bahaya usus buntu. Foto: NET

Sibertangerang.id – Usus buntu atau apendisitis masih menjadi salah satu kondisi darurat medis yang kerap terjadi di masyarakat.

Sayangnya, penyakit ini sering datang tanpa peringatan dan kerap disalahartikan sebagai sakit perut biasa.

Padahal, jika dibiarkan tanpa penanganan medis, peradangan pada usus buntu dapat berujung pada komplikasi serius hingga mengancam nyawa.

Dokter Spesialis Bedah Umum RS Premier Bintaro, dr. Desak Ketut N.S. Pramegia, Sp.B, menjelaskan bahwa usus buntu merupakan peradangan pada apendiks, organ kecil berbentuk kantong yang menempel pada usus besar di bagian kanan bawah perut.

“Walaupun ukurannya kecil dan tidak memiliki fungsi vital, peradangan pada apendiks tidak boleh dianggap remeh,” ujarnya.

Apa Itu Usus Buntu?

Usus buntu terjadi ketika apendiks mengalami penyumbatan yang kemudian memicu infeksi.

Dalam kondisi tersebut, bakteri akan berkembang biak dengan cepat dan menyebabkan peradangan.

Jika tidak segera ditangani, apendiks berisiko pecah dan menyebarkan infeksi ke rongga perut, kondisi yang dikenal sebagai peritonitis dan dapat berakibat fatal.

Penyebab Usus Buntu

Penyebab utama apendisitis adalah tersumbatnya saluran apendiks.

Penyumbatan ini dapat dipicu oleh beberapa faktor, antara lain:

  • Tinja yang mengeras
  • Benda asing
  • Infeksi saluran cerna
  • Tumor (dalam kasus yang jarang)

Selain itu, produksi lendir berlebih serta pembesaran jaringan limfoid di dalam apendiks juga dapat meningkatkan risiko terjadinya peradangan.

Gejala Usus Buntu yang Perlu Diwaspadai

Gejala usus buntu umumnya diawali dengan nyeri di sekitar pusar yang kemudian berpindah ke perut kanan bawah dan terasa semakin tajam.

Keluhan lain yang sering menyertai antara lain:

  • Mual dan muntah
  • Nafsu makan menurun
  • Demam ringan hingga sedang
  • Perut terasa kembung
  • Sulit buang gas atau buang air besar

Pada anak-anak dan lansia, gejala usus buntu sering kali tidak khas sehingga membutuhkan kewaspadaan ekstra.

Cara Dokter Mendiagnosis Usus Buntu

Untuk memastikan diagnosis, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik, terutama dengan menilai nyeri tekan di perut kanan bawah.

Selain itu, beberapa pemeriksaan penunjang juga dilakukan, seperti:

  • Tes darah untuk mendeteksi tanda infeksi
  • Tes urine untuk menyingkirkan kemungkinan penyakit lain
  • Pemeriksaan pencitraan seperti USG atau CT scan

Penanganan Usus Buntu

Penanganan utama apendisitis adalah operasi pengangkatan apendiks atau apendektomi.

Tindakan ini bertujuan mencegah terjadinya komplikasi yang lebih berat.

Apendektomi dapat dilakukan dengan dua metode, yaitu:

  1. Apendektomi laparoskopi, menggunakan sayatan kecil dengan waktu pemulihan lebih cepat.
  2. Apendektomi terbuka, biasanya dilakukan jika apendiks sudah pecah atau infeksi telah menyebar luas.

Setelah operasi, pasien umumnya menjalani perawatan beberapa hari dan diberikan antibiotik untuk mencegah infeksi lanjutan.

Bisakah Usus Buntu Dicegah?

Hingga saat ini, belum ada cara pasti untuk mencegah usus buntu.

Namun, pola makan tinggi serat dari buah dan sayuran dipercaya dapat membantu menurunkan risiko terjadinya penyumbatan pada apendiks.

Kesimpulan

Usus buntu bukan sekadar sakit perut biasa. Kondisi ini membutuhkan penanganan medis segera agar tidak menimbulkan komplikasi berbahaya.

Mengenali gejala sejak dini dan segera memeriksakan diri ke dokter menjadi kunci utama pemulihan.

Dengan diagnosis dan penanganan yang tepat, sebagian besar pasien dapat kembali beraktivitas normal tanpa masalah jangka panjang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *