Metropolitan

Trainning of Trainer Moderasi Beragama dan Bela Negera Bagi Dosen PTU

1149
×

Trainning of Trainer Moderasi Beragama dan Bela Negera Bagi Dosen PTU

Sebarkan artikel ini

Sibertangerang.id – Kementrian Agama RI,  Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, Direktorat Pendidikan Agama Islam bekerjasama dengan PUSDIKLAT Teknis Keagamaan mengadakan Trainning of Trainer (ToT) moderasi beragama dan bela negara bagi dosen PAI PTU subdit PAI pada PTU.

Pada kesempatan itu, Dir. PAI Dr. Amrullah, M.Si dalam Overview Program mengatakan kegiatan ToT moderasi beragama dan bela negara bagi dosen PAI PTU merupakan langkah strategi dalam sosialisasi moderasi beragama di lingkungan kampus. Ini program pertama kali, kerjasama antara direktorat PAI dengan PUSDIKLAT. Dan diharapkan dapat terprogram untuk program ToT berikutnya. Bagaimana nilai moderasi beragama dan bela negara dapat terimplementasi di perguruan tinggi.

Selanjutnya Kasubdit PAI ( Dr. Munir ) menerangkan bahwa T.o.T moderasi beragama dan bela negara bagi dosen dan mahasiswa di PTU diikuti sebanyak 40 dosen dan 40 mahasiswa dari seluruh perwakilan PTU di Indonesia. Antara lain: UI, UNESA, UGM, UNAIR, UPN, UNJ, UNSOED, UPI, UNTIRTA, PNJ, UNINUS, UNISMA, Univ. Abdul Chalim, UNPAM, Univ, Sebelas April, Univ. Buana Perjuangan, Univ. Garut, UNISIA, UNS, Univ. Paramadina, Unindra, UII, STIKES Kepanjen. Lebih lanjut Dr. Munir menjelaskan bahwa antusias keikutsertaan peserta sangat banyak dari PTU. Kegiatan ini berlangsung mulai hari Senin hingga Sabtu 24-29 Juli 2023 bertempat di Days Hotel & Suites Jl. Pembangunan 3 Nomor 17 Tangerang, Banten.

ToT moderasi beragama dan bela negara bagi dosen PAI PTU, menghadirkan narasumber yang kompeten dalam bidangnya antara lain : Prof. Dr. Muhammad Ali Ramdhani, STP, MT.,  Prof Dr. H. Suyitno, M.Ag., Prof. DR. J.M. Muslimin Ph.D., KH. Zulfa Mustofa., Prof.Dr. Oman Fathurahman., Kol. Mr. Rachmat Djunaidy., Nyai Alysa wahid dan lainnya. Dan dari team fasilitator antara lain 1. Rosidin 2. Efa Ainul Falah 3. Sholehudi. Kegiatan ini dilakukan sangat ketat untuk mencetak fasilitator handal dalam pengembangan sosialisasi moderasi beragama.

Prof. Dr. Muhammad Ali Ramdhani, STP, MT dalam pembukaan kegiatan T.o.T mengatakan, bahwa harapan tahun 2024, bangsa Indonesia dapat menuju Indonesia emas, kondisi yang konstan dalam pertumbuhan pembangunan. Dan sebuah perkembangan dapat dilakukan karena terjadinya harmoni. Harmoni bangsa dapat dilihat dari pola prilaku manusia. Pemahaman orang tentang agama menentukan sikap dalam beragama. Gagasan beragama harus ditampilkan dengan cara yang baik karena membangun peradaban harus dilakukan secara bersama-sama.

Menurut Prof Dr. H. Suyitno, M.Ag, pada materi Visi, Misi, dan Nilai Dasar Kementerian Agama bahwa pentingnya kegiatan moderasi beragama dalam konteks akademisi, dikarenakan dosen masih menjadi role model sebagai tokoh panutan di lingkungan kampus. Kontrol ekosistem dilakukan sebagai upaya ketika ada gejala-gejala yang menganggu, karena kita berkepentingan pada output kampus. Proteksi tersebut penting, karena ada oknum umat beragama yang cara pandang, cara bersikap tidak moderat (intoleran) memahami agamanya. Dari kelompok kecil tapi suaranya gaduh, hal ini harus diwaspadai. Ibarat “Terbakarnya hutan disebabkan karena seputung rokok”.

Prof. DR. J.M. Muslimin Ph.D pada materi Resolusi Konflik menjelaskan bahwa tedapat empat hal yang menjadi bibit-bibit konflik antara lain:pertama, Fairness, yaitu tidak adanya perlakukan yang bijak / adil, misalnya ruang untuk yang berbeda agama atau keyakinan ibadah. Kedua, empati yaitu pengambilan memahami apa yang dialami orang lain menuju perspektif simpati. Ketiga, reason yaitu dekat dengan kewajaran melalui cara menempatkan diri dengan baik/ religius listening. Keempat, freedoms yaitu bagaimana tujuan syariat dapat dirasakan oleh seluruh ummat manusia dalam penjagaan akal, keturunan, harta, kehormatan, agama.

KH. Zulfa Mustofa dalam paparan Nilai-nilai Universal dan Landasan Teologis Moderasi Beragama: Nilai Moderasi dalam Perspektif Teologis Agama, menyatakan sebuah pepatah “barangsiapa yang memiliki wawasan ilmu, maka dia moderat”. Karena kebanyakan kemusykilan disebabkan karena kekeliruan dalam memahami bahasa / teks baik dari buku atau perkataan orang. Sehingga mengakibatkan “kalau tidak salah paham, maka pahamnya salah”. Padahal inti syariat adalah berisi keadilan, ajaran rahmat, kemaslahatan, ajaran hikmah, kebijaksanaan. Maka orang-orang yang membawa syariat namun keluar dari prinsip inti syariat, bagaimanapun mereka memasukkan ke dalam syariat, itu bukan syariat.

Prof.Dr. Oman Fathurahman pada materi Konsep Moderasi Beragama Kementerian Agama RI menjelaskan bahwa terjadi kekeliruan asumsi terkait moderasi beragama yaitu moderasi beragama dianggap bagian dari perang pemikiran melalui untuk membuat bingung, untuk menyesatkan, proselytize untuk memurtadkan. Kemudian moderasi beragama dianggap sebagai upaya menjauhkan ummat dari ajaran agama. lebih lanjut Prof.Dr. Oman Fathurahman menjelaskan, kapan negara boleh ikut campur agama dan kapan berlepas dari agama. Pertama, negara harus hadir mengatur, pada pemberlakuan syariat (hukum agama) yang terkait dengan penegakan nilai-nilai universal yang kebenarannya diakui semua agama. Kedua, negara boleh hadir mengatur organisasi dan operasionalnya, tidak substantif ritualnya. Yaitu pemberlakuan syariat agama yang kebenarannya hanya diakui oleh salah satu agama tapi bersifat masal dan terkait dengan ketertiban umum. Ketiga, negara tidak boleh mengatur baik mewajibkan atau melarang, yaitu pemberlakuan syariat agama yang kebenarannya bahkan diperdebatkan (khilafiah) di kalangan salah satu agama atau syariat yang syariat yang bersifat individual.

Kol. Mr. Rachmat Djunaidy dalam materi Wawasan Kebangsaan: Bela Negara memberikan paparan bahwa perlunya waspada terhadap ancaman kompleks dan multidimensional. Untuk menjaganya diperlukan bela negara dimana bela negara tersebut mengikuti perkembangan zaman, yaitu sesuai profesi masing-masing. Upaya bela negara adalah sikap dan perilaku warga negara yang dijiwai oleh kecintaannya kepada NKRI yang berdasarkan pancasila dan UUD 1945 dalam menjamin kelangsungan hidup bangsa dan negara. Adapun nilai-nilai dasar bela negara antara lain cinta tanah air, kesadaran berbangsa dan bernegara, setia pancasila sebagai ideologi negara, rela berkorban untuk bangsa dan negara, memiliki kemampuan awal bela negara (sehat jasmani dan rohani).

Nyai Alysa wahid mengatakan dalam materi kepeloporan, mengutip otto scharmer “successful leadership in 21 A century depends on the : 1) Quality of (intention). 2 ) Quality of (attention). Oleh karena itu, pemimpin harus membangun karakter dan kompetensi yang melahirkan kredibilitas selanjutnya menjadi penilaian dan pengaruh. Terdapat 5 level of leadership yaitu position (rights) karena jabatan (SK), permission (reletionship) karena dipercaya sebagai pribadi, production (result) karena karya, people development (reproduction) karena pemimpin tersebut mampu mencetak pemimpin berikutnya, personhood (respect) karena kharisma.

Dan tim fasilitator pada alur pelatihan memberikan tehnih dan taktik dalam pembelajaran. Dimulai dari building learning comitmen (BLC), Trainer skill, Udar Asumsi, Sketsa keberagamaan, Skenarion thinking, analisa sosial, penjelasan moral, nilai-nilai universal agama, landasan teologi agama, konsep KEMENAG, wawasan kebangsaan, sikap diri, ekosistem moderasi beragama, analisa sosial, membangun karakter kepeloporan, bina damai dan respon, micro trainer, hingga pada refleksi, evaluasi dan RTL (Rencana Tindak Lanjut), dengan kemasan ice breaking yang menyenangkan dan memudahkan pemahaman materi.

Di akhir T.o.T, para peserta mendapatkan penajaman tentang moderasi beragama dan tugas trainer dari KAPUS (Dr. Mastuki), yaitu pada penguasaan modul (materi) dengan memiliki wawasan praktek, cegah interpretasi yang terlalu jauh, karena harus mampu memberi ruang pada peserta dalam eksplor, menggunakan platform misalnya menggunakan menti meter, ice breaking yang digunakan untuk mencairkan suasana. Dalam sesi demi sesi materi selama 6 hari dilakukan dengan lancar dan komitmen dari panitia dan peserta, dari polling tentang kepahaman materi dari peserta mencapai hasil yang memuaskan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *